Sehari Bersama Anak-Anak Penghafal Al Qur’an

Acara dibuka dengan tasmi’, dibawakan oleh Wildan (putra Bp.Ma’Mun), kelas 5 SD hafal 30 juz. Membacakan QS.Yusuf ayat 1-95. Hadirin menyimak dengan mushafnya masing-masing…. Baru pembukaan saja sudah membuat hati ini gerimis. Air mata ingin tertumpah. Tapi saya tahan. Saya duduk paling depan.

Kemudian keluarga penghafal Al Quran itu dihadirkan ke depan.

Wildan membawa adiknya, Hasna, Kelas 2 SD, hafal 5 juz. Serta ayahnya, Bp. Ma’mun

Bp. Nasir membawa serta 3 anaknya, semuanya penghafal Al Quran. Diantaranya ada yang baru kelas 1 SD tapi sudah hafal 6 juz (afwan namanya lupa). Subhanallah…

Bp. Sujadi, beserta anaknya yang baru masuk SD (2 bulan), hafal 1 juz.

Anaknya Bp.Nasir dan Bp.Sujadi meski sama-sama kelas 1 SD, tapi berbeda hafalannya. Anaknya Bp. Nasir sudah masuk sejak TK, dan kakak-kakaknya juga Hafidz.

Anak-anak itu dididik sejak usia dini (6 tahun) di Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran, Kudus, Jawa Tengah

Mengapa Orang Tua begitu ‘Tega’ melepas mereka pada usia 6 tahun?

Berikut penuturan para orang tua hebat itu.

Bp Ma’mun:
Bapak dari 5 anak, semua anaknya penghafal Al Quran. Beralamat di Jl.Sumurboto II no.10C Semarang, pesantren mahasiswa Al Fatah.
Anak pertama (skrg MAN) juga hafidz. Ketika memasukkan anak pertama, rasanya sangat berat. Tapi hanya membawa 1 keyakinan, firman Allah. Memberi tempat yang istimewa di akhirat untuk para penghafal Al Quran. Dan beliau ‘hanya’ bisa menginvestasikan anaknya sebagai penghafal Al Quran, karena anak-anak masih mudah untuk menghafal Al Quran. Anak pertama, sejak umur 6 tahun dilepas 100% ke ponpes di Grabag. Secara kalkulasi, praktis mengurus anak ‘hanya’ 6 tahun. Pertanyaan dari teman, keluarga, dll kok tega melepas anak seperti itu. Pertanyaan itu sudah biasa disematkan kepadanya. Saat itu, meski sudah mantab melepas anak, istri belum mantab. Setelah diyakinkan dan memperbanyak dzikir, akhirnya kuat. Anaknya yang pertama kini Aliyah. Setelah anak pertama mondok, anak-anak berikutnya lebih mudah karena sudah mengikuti jejak kakaknya.

Bp.Nasir
Sejak menikah, sudah sepakat mengutamakan anak ke arah agama sekuat mungkin. Ada keyakinan bahwa kalau sudah niat, Allah pasti akan memberikan jalan kemudahan. Keyakinan itu terbukti, anak-anaknya terdidik dengan baik di ponpes, sehat,dan merasa nyaman. Secara duniawi, bahkan bisnisnya Bp.Nasir terus berkembang. Yang pertama nyantri di Gontor sejak SMP. Kemudian yang ke 2 s.d. yang ke 5 semua nyantri di Kudus sejak TK. Anak pertama sudah mendapat tawaran belajar di Mesir dan Australia. Adik-adiknya sudah tinggal mengikuti, ingin meneruskan ke ponpes seperti kakaknya. Karena hampir semua anaknya nyantri di Kudus, akhirnya Bp. Nasir tinggal sendiri di Semarang. Istrinya ngontrak rumah di Kudus (sekarang sudah dimiliki sendiri)

Alhamdulillah adiknya Bp. Nasir juga tertulari menitipkan anak-anaknya ke pesantren.

Bp.Sujadi.
Awalnya karena mengikuti dauroh Quran (acara yang sama saat ini) di Masjid Al Kautsar, Semarang Barat, dgn pembicara Ust. Muzammil. Setelah mencari informasi dan minta dukungan Ust.Muzammil, akhirnya ketemu ponpes Yanbu’ul Quran di Kudus. Mau masuk seleksi 113 anak, yang diambil 33 anak. Anaknya dapat no.urut ke 12. Begitu diterima, tidak boleh dibawa pulang, tapi langsung masuk masuk pondok. Orangtunaya cukup shock, karena tidak membawa bekal apa-apa untuk anaknya. Dikiranya setelah diterima, masih ada kesempatan untuk pulang dahulu ke semarang. Anaknya bilang, “Udah gakpapa. Abi dan Ummi pulang aja, nanti kalau kemaleman gak ada angkutan lagi lho..”. Alhamdulillah diberi kemudahan, anak justru senang tinggal di sana. Justru orangtuanya yang menangis tidak tega.

Semuanya satu per satu membacakan ayat-ayat yang dihafalkannya. Giliran Wiladan, Audience secara bergantian membacakan salah satu surat secara acak juz 1-30, dan Wildan pun meneruskan dengan lancar. Subhanallah…. (air mata itu tak bisa dibendung lagi)

Ketika Wildan ditanya apa motivasi menhafal 30 juz Al Quran. Dia menjawab karena terpaksa. Bapaknya menambahi bahwa itu adalah jawaban jujur dari seorang anak. Dan karena masih anak-anak, beberapa konsep pendidikan memang harus dipaksa, belum diberi konsep kebebasan. Pemaksaan kebaikan pada diri anak-anak itu akan menjadi bekal ketika mereka menginjak usia akil baligh, ketika mereka memutuskan secara mandiri segala sesuatunya. Di sinilah konsep kebebsan itu berlaku, meski orang tua masih punya hak untuk mengarahkan.

Sungguh, tantangan tersendiri bagi orangtua. Relakah melepas anaknya yang masih kecil (6 tahun) untuk nyantri di ponpes penghafal Al Quran? Tidak boleh dijenguk kecuali hanya sekali dalam sebulan. Diberi liburan selama 20 hari dalam setahun, dan 20 hari pertama adalah masa karantina bagi anak, tidak boleh dihubungi dan menghubungi keluarganya maupun pihak luar ponpes. Kalau pun ingin tahu kabarnya, hanya bisa sms/nelpon pembimbingnya (Satu pembimbing membawahi 10-11 anak).

Bukan hanya semata-mata mental anak yang dipersiapkan, justru mental orang tua yang harus dipersiapkan.

Sekilas tentang Ponpes Yanbu’ul Quran

Pendaftaran dibuka untuk masuk tingkat SD, SMP, dan SMA (MI, MTs, MA)

Seleksi untuk masuk SD terakhir kemarin, dari 133 pendaftar ikhwan, diterima 33 anak. Sedangkan dari 60 pendaftar putri, diterima 22 anak.
Materi yang diujikan:
- Membaca Al Quran dengan lancar
- Hafalan Wajib, tiap tahun berbeda.
- Tes IQ

Meski di dalam pondok, situasi dibuat senatural mungkin dengan duni anak. mereka juga banyak kesempatan untuk bermain. Meski juga sudah ditetapkan waktu-waktu tertetntu dengan disiplin, dimulai dengan bangun pagi pukul 03.30, langsung mandi dan persiapan sholat.
Keperluan sehari-hari disediakan pondok, bahkan mencuci juga tidak dilakukan sendiri oleh santri. Santri tinggal belajar dan menghafal Al Quran.
Uang masuk untuk tahun ini Rp 2.000.000,00 dan SPP per bulan Rp 470.000

Tergolong murah bila dibandngkan masuk sekolah Islam terpadu. Masalahnya adalah, siapkah kita melepas mereka?

Ahad 5 September 2010/ 26 Ramadhan 1431 H
Masjid Al Fithroh, Kembangarum, Semarang Barat

–oo0oo–

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Sehari Bersama Anak-Anak Penghafal Al Qur’an

  1. dhian prasetyo says:

    Assalamu’alaikum wr wb

    subhanallah, terharu dan bangga membaca para hafizh cilik, ingin rasanya mengikuti jejak orang tua yang “berani” menitipkan anak-anaknya di pesantren sejak dini. mohon info lebih detail mas mengenai pesantren tahfiz qur’an di kudus, saya dengar ada pesantren yang bagus untuk tahfiz di kudus, apakah yang dimaksud adalah pesantren Yanbuul Qur’an seperti yang diceritakan di atas. jazakallah khairan katsira.

    Wassalamu’alaikum wr wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s